Sisa-sisa lemak ditubuhnya yg renta cukup jelas menandakan guratan kehidupan masa lalu-nya yg sejahtera. 2 tahun yll kami mengenalnya, disaat malam Natal Desember 2007. Masih bisa kurasakan getaran bunyi ketukan pintu rumahku di malam itu saat kakek datang hendak jumpa dg 2 putriku. Kami sempat sunyi dan hampa sejenak ternganga dan kaku mendengar keinginan kakek yg disampaikan dg cara yg agak sedikit nyeleneh ini.
“Nama saya dokter Albert” begitu dia mengawali pembicaraan. Dari logatnya kami bisa pastikan asal dr kakek ini dari daerah sisi Utara pulau Sumatera. “Apa benar ini rumah dua anak perempuan yg tempo hari mengirimi kakek sukun goreng?”. Seketika mulut kami kelu, takut kalau kakek ini keracunan sukun goreng yg kami berikan minggu lalu, atau jangan2 anak keduaku Nisa yg memang agak sedikit bandel itu membuat ulah. Dg agak ragu aku jawab “iya pak betul, ini dia dua putri saya yang mengantarkan makanan waktu itu, ada yg bisa kami bantu pak?” Sejenak kami semua sunyi, … sampai kemudian kakek mengambil dua lembar uang lima puluh ribuan dari saku celana pendek-nya yg sdh usang, dan tiba-tiba “ini utk cucu kakek yg baik hati, sukunnya enaaak sekali. Kakek senang sekali ada dua cucuku yg manis-manis ingat sama kakek yg tinggal di rumah sendirian”. Dua lembar uang itu kemudian diberikan kpd kedua putriku, seketika kami terhenyak dan diam. Hanya diam yg kami lakukan dan tentu dg rasa haru. Dua putriku kontan mengucapkan “terima kasih kakek”. Tersenyum dan sambil manggut2 si kakek kemudian berujar “Di malam Natal ini kakek ingin memberi sesuatu, tapi kepada siapa … Kakek sering sendirian di rumah, lalu kakek ingat kalian berdua cucuku yg manis2″.
“Anak kakek dua, laki semua. Kakek di sini sama anak kakek yg bungsu. Anak kakek ini seorang Insinyur, bekerja di perusahaan swasta di sini. Anak kakek ini sibuk sekali kerja teruuuus, gak sempat urusin kakek, jadi kakek se-hari2 sendirian” … “Istri kakek sudah lama mati” … Begitulah awal mula kami saling mengenal.
Sebelum hari itu kami tak pernah saling tegur sapa, hanya Nisa yg kerap kali menyapa kakek. Pd suatu saat si kakek sdg menyiram rumput di rumahnya dan spontan muncul dr mulut Nisa bertanya “kakek kok sendirian sih ? Istri kakek di mana ?”, si kakek seperti disambar geledek berdiri kaku tak menyangka pertanyaan dewasa itu bisa keluar dr mulut Nisa yg msh TK. Sejak itu rupanya kakek jatuh hati pada celotehnya Nisa.
Tak banyak cerita antara kami dan kakek utk beberapa lama, … Kami sibuk sendiri-sendiri … Sampai suatu saat kira-kira setengah tahun kemudian kami mendengar kabar bhw kakek sakit dan sempat dibawa ke UGD. Kami-pun sekeluarga sempatkan tengok beliau. Malam itu kakek berdua dg putra bungsunya. Saat itu kami baru tahu bahwa nama anak bungsu beliau adalah Ferdynand (Ferdy) dan terus terang selama ini kami baru saling jumpa.
Ferdy tergolong pemuda yg sunyi-senyap, sepi … Tak banyak kata yg terucap dr mulut pemuda ini. Seakan aku harus membayar mahal sekali utk setiap kata yg keluar dari mulutnya. Malam itu seakan suara kakek saja yg memenuhi ruangan 3×4 ber AC itu. Hanya sesekali suara Ferdy muncul seperti nada orang bergumam. Seakan tak peduli selang oksigen yg centang perentang di hidungnya, kakek Albert mengoceh terus tak henti2nya bercerita mengenai masa lalunya dan kehidupan keluarganya. “Saya beberapa hari yll jatuh pingsan di kamar, lalu di bawa Ferdy ke UGD, kata dokter jantung saya lemah, saya harus istirahat tdk boleh nyiram tanaman sendiri lagi”. Dari cerita kakek kami baru tahu bahwa perjalanan hidup sang kakek tdk lah begitu membahagiakan, putra pertamanya yg sangat diharapkannya tumbuh tidak seperti yg diinginkannya. Kami mencoba menebak2 apa yg terjadi. Sepertinya didikan yg sangat keras telah terjadi di masa lalu. Keras sekali, sampai2 si putra bungsu nya menyingkir dari ayah tercintanya dan dugaanku ini terjadi setelah sepeninggal sang istri tercinta. Tak jelas rimbanya putra pertamanya ini, bahkan pernikahannya pun tak sepengetahuan sang ayah. “Saya tdk tahu dia tinggal dimana, nikah sama siapa, sdh punya anak berapa, kami tak pernah berhasil menghubunginya” tukas sang kakek sedih. “Terakhir kami dengar kabar dia ada di Surabaya kerja jadi penyelam bayaran”. Sebuah profesi yg tak pernah terbayangkan akan ditempuh oleh putra seorang dokter spesialis penyakit dalam ini.
Puas sang kakek bercerita ttg putra pertamanya, sekarang giliran Ferdy putra satu2nya yg tertinggal dan mjd pengharapan terakhir baginya, pun dianggapnya telah mengecewakan dirinya. Ferdy yg berperangai sepi-senyap itu rupanya sdh cukup bahagia dg predikat “bujang lapuk”. Aku taksir usianya terpaut beberapa tahun saja dg ku yg sdh kawin 15 th yll dan telah beranak 3. “Nggak tahu lagi saya si Ferdy ini, kapan hendak kau menikah … Masak kau tunggu Nisa dewasa … Celakalah Kau …” Tukas kakek dg gaya Medan-nya yg kental.
Hari demi hari, bulan demi bulan berlalu dan kakek pun semakin sering jatuh sakit, bahkan beberapa kali jatuh pingsan di rumah tak ada satu pun yg tahu. Tahu2 kami dengar kabar kakek pulang dr RS dibawa Ferdy.
Rupanya Tuhan-pun tak tahan melihat penderitaan sang Kakek hingga pada suatu hari di pagi buta kami mendengar Ambulance meraung2 di kompleks kami dan beberapa jam kemudian kami dengar kakek telah tiada tanpa sempat kami tetangga sekompleks nya menemaninya di saat2 sekarat.
Sang kakek sunyi telah tiada, meninggalkan dunianya yang sunyi menuju kesunyian abadi di sisi Sang Pencipta, selamat jalan Sang Kakek … “We love you full …” Sent From My HookyBerry®




