Maafkan aku anakku …

November 1, 2009

Maafkan aku anakku …

Sebelum kau dilahirkan, Tuhanmu menjanjikan padamu … Saat kau takut, saat kau sedih, saat kau merasa lemah, saat kau khawatir … Tuhanmu akan mengutus malaikat yg bernama “IBU” utk menjagamu …

Maafkan aku anakku …

Saat itu Tuhanmu tdk sempat memberitahumu bhw malaikatmu itu penuh dg kelemahan dan kekurangan … Malaikatmu itu ternyata hanya manusia biasa yg juga lemah sepertimu, yg terkadang lupa, yg terkadang tergoda, yg terkadang tdk punya daya dan upaya …

Maafkan aku anakku …

Dg segala kelemahanku aku telah menerima amanah yg berat ini utk dititipi dirimu dari Tuhanmu. Semula aku menganggap memiliki dirimu adalah hal yg biasa saja, sesuatu yg semestinya terjadi sbg bagian dr keberlangsungan generasi … Tapi ternyata dirimu adalah makhluk yg luar biasa, bukan hanya secara biologis, tapi juga fisiologis dan bahkan metafisis … Begitu cerdasnya akal dan mental mu melahap hakikat kehidupan, aku tak siap membekalimu dg baik anakku … Shg terkadang engkau mencari sendiri hakikat kehidupan melalui alam2 virtual yg lbh byk menyesatkan ketimbang mencerahkan …

Maafkan aku anakku …
Dari IBU …


Malaysia Melecehkan Lagu Kebangsaan Kita, Benarkah??? (reposting dr artikel saya di Kompasiana)

Agustus 30, 2009

Melihat pemberitaan2 media kita akhir-akhir ini, saya terus terang merasa “trenyuh” dan sedih, inilah mungkin salah satu efek jelek dari kebebasan media. Demi mengangkat rating, media terlihat begitu sembrono mengangkat materi pemberitaan. Menurut saya media tidak seharusnya mengangkat berita yang bersumber dari blog dan forum di internet dan kemudian mengangkat itu sebagai isyu Nasional. Bahkan kemudian men-generalisir pendapat pribadi di blog dan forum internet itu sebagai pendapat mayoritas, ini adalah suatu kesembronoan.

Maafkan saya jika saya salah menilai, sebelum berita “pelecehan lagu Indonesia Raya” di publish, entah sdh berapa waktu yang lalu saya sdh melihat sebelumnya postingan2 sejenis, dan jujur sebetulnya postingan dari para netter Indonesia juga tidak kalah pedas dan tidak kalah menghina, tapi kenapa pemerintah Malaysia tidak marah ? Saya kira kita harus mulai dewasa berpikir dan mendudukan setiap permasalahan pada proporsi yang seimbang, di sinilah sebetulnya peran Media di tuntut, bukannya menambah asupan2 ke publik yang bersifat provokatif.

Untungnya media di Malaysia tidak mendapatkan kebebasan sebagaimana di Indonesia, tetapi kalau kita tidak mensikapi kebebasan pers di Indonesia ini dengan bijak, maka bukan keberkahan yang kita dapatkan bahkan bisa menjadi malapetaka bagi kita sendiri. Apa jadinya apabila media di Malaysia juga menanggapinya dengan hal serupa, dengan dibumbui provokasi2 tertentu. Tidak terbayangkan ….

Kemajuan teknologi saat ini sungguh sangat tidak terbendung dan telah mengubah perilaku sosial secara massal. Adalah sebuah kemustahilan di era sekarang ini jika kita melarang seseorang untuk memposting tentang hal apapun di internet. Mungkin bisa saja domain ybs dibekukan tetapi domain2 di luar negeri dijual bebas bahkan gratis. Disinilah kembali Media kita ditantang untuk mengarahkan opini ke arah yang konstruktif dan seimbang.

Maaf jika salah penilaian, salam …


puisi pertama-ku

Agustus 1, 2009
Malamku telah berselimutkan lelap, Demi esok hariku yg hendak bermandikan peluh, Berkuasanya nasib diri digulung paksa, Tempatku berlari berujung ketiadaan.

“Mottainai”, akar budaya dan filsafat pemikiran kuno Jepang yg hampir terlupakan.

Agustus 1, 2009

Mungkin sdh ke sekian kalinya aku posting di internet, tapi biarlah karena aku pengin lbh byk orang tahu mengenai hal ini. Kata  “mottainai” sdh sangat akrab di telinga orang2 jepang terutama generasi tuanya, mereka sering mengucapkan kata ini ketika ingin mengungkapkan rasa penyesalan terhadap suatu kejadian atau aktifitas yg bersifat pemborosan, pe-mubadziran, kesia-siaan, dll hal yg serupa itu. “Mottainai” sejatinya bukan hanya sekedar sebuah kata, tetapi lbh cenderung menjadi sebuah filosofi kehidupan, sebuah akar budaya yg  sengaja dipelihara turun temurun, dan alhasil di sadari atau tidak, ini memberikan kontribusi yg tidak kecil terhadap kemajuan negeri sakura ini. Meskipun demikian tidak dipungkiri dg derasnya arus modernisasi, filosafi dan akar budaya ini pun sedikit demi sedikit tergerus dan hampir terlupakan.

Contoh kongkrit budaya bangsa Jepang dlm hal perlawanan thd “mottainai” adalah sbb.

Orang Jepang menganggap kebiasaan ini sungguh jelek apabila kita tidak menghabiskan makanan yg telah kita ambil. Masing-masing butir dari beras adalah produk dari tenaga kerja petani, suatu buah karya yg penuh cinta dan kerja keras. Itulah sebabnya mereka harus dengan penuh terima kasih memakan semangkuk nasi sampai butir yang terakhir. Ini adalah semangat mottainai dari Jepang.

Jika mereka makan ikan dan daging, mereka beranggapan bhw mereka telah melibatkan kehidupan makhluk lain agar tetap bertahan hidup. Maka, kita harus tidak menyia-nyiakan kehidupan makhluk lain, yg telah rela mengorbankan hidupnya demi keberlangsungan hidup manusia. Karena itu sejak zaman lampau, bangsa Jepang sudah memasak dan memakan ikan secara keseluruhan. Kepala, tulang-tulang, kulit dan isi perut adalah semua yang harus dimakan. Akar budaya seperti ini sampai hari ini masih bertahan hanya di desa-desa nelayan kecil.

Dewasa ini, 60 persen dari sampah yang terbuang di Jepang terdiri atas pembungkus. Dahulu mereka menggunakan “furoshiki”, yakni sepotong kain yang berbentuk bujur sangkar, dapat membungkus dengan variasi yang tak terbatas. Kita dapat menggunakan nya sebagai kantong ataupun ransel – itu tergantung kepada imajinasi kita bagaimana kita menggunakan nya. Ini lebih ekologis dan mudah dibentuk dibanding menggunakan kertas atau tas plastik.

Osagari – ini adalah padanan dalam bahasa Jepang dari kata “hands-me-down.” Saat ini  konsep tsb hampir punah. Dahulu bermula dari keadaan di mana pakaian milik kakak perempuan itu diturunkan ke adik perempuan. Ini bukan hanya berkenaan dengan hal “penghematan” ; tetapi adalah suatu cerminan kebiasaan dari kita untuk menggunakan kembali (reuse) barang2 yg msh bermanfaat. Tetapi kebiasaan ini kini hampir dilupakan.
Payung-payung saat ini di Jepang jarang diperbaiki karena terbuat dr bahan yang tersedia dengan mudah dan murah. Pada periode Edo, ada pengrajin yang  mengkhususkan di dalam memperbaiki barang-barang  yang rusak termasuk payung dan barang2 tembikar. Tetapi di dalam masyarakat konsumen kita yang modern, teknik-teknik perbaikan tradisional seperti tengah sekarat dan hilang tidak dihargai. Ini sebenarnya mottainai.

Kimono – pakaian tradisional Jepang – adalah pakaian yang dapat di daur ulang. Begitu sudah tidak dipakai, maka barang tersebut akan diwariskan sampai ke beberapa generasi berikutnya . Kimono menjadi benda yg sangat berharga, karena dapat diturunkan ke beberapa generasi berikutnya. Kemeja Hawai Aloha mempunyai asal muasal dari Kimono. Ketika sebagian orang Jepang bermigrasi ke Hawaii sekitar 80 tahun yang lalu, mereka menjahit kembali Kimono ke dalam sehelai kemeja yg gaya untuk menyesuaikan iklim setempat.

Dahulu di Jepang setiap anak sekolah mempunyai alat pemegang pensil yang sudah pendek, hal ini memungkinkan kita untuk menggunakan pensil sampai benar-benar habis. Hal ini mengajar kita untuk tidak menyia-nyiakan sesuatu.

Di Jepang ada kebiasaan yang hampir hilang yakni menerima dan menuangkan minuman untuk orang lain, yang disebut “oshaku”. Jika ini dilakukan dg atasan kita hal ini akan memunculkan suatu kesadaran dari mottainai, karena penerimaan kita adalah sesuatu yang diberikan secara sukarela.

Toilet-toilet di Jepang dapat membilas dengan cara dua arah. Satu menggunakan lebih sedikit air – untuk pertimbangan tertentu – sehingga air tidak disia-siakan. Kenapa kamar kecil di seluruh dunia tidak mempunyai fungsi rangkap seperti ini?

Kamar tamu di Jepang biasanya mempunyai jendela menghadap ke Selatan yang besar shg ketika kita membaca buku atau surat kabar, atau barangkali menulis surat, kita dpt  memanfaatkan jendela itu utk penerangan. Jika ini dilakukan oleh orang seluruh dunia, bayangkan brp ton bahan bakar dpt dihemat?

Tetapi sebagaimana bangsa2 lain diberbagai belahan dunia, bangsa Jepang saat ini juga menghadapi permasalahan akibat semakin hilangnya semangat mottainai itu antara lain :

Bangsa Jepang menggunakan 25 milyar chopsticks yang dibuang dalam satu tahun. Sekitar 96 persennya diimport dari Negeri China. Dengan jumlah yang sama dari kayu potong yang dibutuhkan untuk membuat chopsticks tersebut, maka kita bisa membangun 17,000 unit perumahan dengan ukuran rata-rata.

Di rumah2 makan Jepang sejumlah besar makanan terbuang-buang setiap hari. Kedai 24 jam menyingkirkan kotak-kotak makan siang (bento) dan produk-produk makanan kadaluarsa tiga atau empat kali satu hari. Satu toko rata-rata membuang rata 13 kg dari makanan yang tak terjual setiap hari, dan di sana tdp 40.000 toko di Jepang. Hal ini membuat 520 ton makanan dibuang setiap hari. Bagaimana mungkin kita bisa membenarkan mottainai macam ini ketika setiap hari ada 17.000 orang mati disebabkan kelaparan di seluruh dunia?

Hal2 lain di dalam kehidupan kita yg dapat dianggap mottainai adalah seperti contoh berikut:

Jika anda mampu berbicara tiga bahasa dengan fasih tetapi tidak bisa mendapatkan pekerjaan menggunakan ketrampilan-ketrampilan anda tersebut, maka itu dapat dianggap suatu pemborosan talenta. Mottainai juga diterapkan tidak hanya kepada object tetapi juga kepada kemampuan-kemampuan orang.

Setiap tahun $80 milyar diperlukan untuk mengamankan anak-anak dengan makanan atau minuman bergizi dasar di negara-negara berkembang. Tetapi sebaliknya, jumlah uang yang dihabiskan untuk belanja militer di seluruh dunia adalah 10 kali jumlah itu. Tidakkah ini adalah mottainai?

Dan yg terakhir silahkan anda cari sendiri hal2 mottainai apa saja yg terjadi di negeri kita tercinta ini? -Salam-.


syurgaku – pak tua daun singkong

Juli 4, 2009

hari ini, setelah penantianku beberapa minggu akhirnya datang juga, “pak tua daun singkong”. meskipun sudah lama aku mengenalnya tapi aku tidak tahu namanya, yg kutahu cuman beberapa hal, renta, miskin, kumuh dan tdk bisa berbahasa Indonesia. konon kata satpam kompleks-ku rumahnya disebalik gunung belakang kompleks. “busyet ternyata jauh benar” nggak kebayang capek-nya jalan menyusuri sawah dan batu terjal ber-kilo2meter hanya utk sekedar menjajakan beberapa ikat daun singkong yg harganya tak lebih dari 10rb semuanya. kadang2 kulihat dia bawa ubi-ketela yg kalau direbus kenyal2 (“ngganyong” kata orang jawa), kadang2 bawa kacang tanah mentah yg kalau direbus keras digigit, tapi bagiku tak apalah kadang2 istriku beli juga.

aku dengar dr istriku kalau bpk ini sering maksa2 spy jualannya dibeli, bahkan di tetangga sebelah sampai berani masuk ke dapur buka2 isi lemari. “menjengkelkan” kata istriku menirukan omongan tetanggaku. istriku pun sebenarnya ikut jengkel juga dg bpk ini. aku mencoba meredakan kejengkelan istriku dg bilang bahwa itu dia jalani karena terpaksa kalau tdk begitu jualannya gak laku, dan kadang2 aku terpikir bpk ini pasti pernah perutnya hanya terisi daun singkong dagangannya selama beberapa hari krn tdk laku. menyedihkan sekali …

sejak pertama aku mengenal bpk itu tidak tahu kenapa aku punya pandangan lain dg istriku, bahkan aku pernah sempatkan tanya ke istriku “kok pak daun singkong lama gak keliatan ma?” aku khawatir jangan2 dia mati kelaparan, atau jatuh di jurang saat mau turun dr lereng gunung, atau dimakan harimau??? (waaakss!!!). yg kutakutkan jika dia mati karena kelaparan, aku pasti turut berdosa,… pasti!!! dan Alloh pasti marah besar kpd kami sekompleks.

bulan lalu saat aku menghadiri dzikir bersama di salah satu pesantren milik ustadz pembimbing haji-ku, penceramah yg diundang dari jakarta waktu itu benar2 menyentuh nurani, salah satu yg dikatakannya adalah jalan syurga bagi masing2 orang berbeda2, contoh kalau seorang pedagang jalan syurganya adalah “kejujuran”, seorang pemimpin jalan syurganya adalah “adil”, orang kaya jalan syurganya adalah “sedekah”, ustadz jalan syurganya adalah “ikhlas” dll. jadi apabila orang miskin tdk bersedekah itu sdh sewajarnya krn dia akan menjadi jalan syurga bagi orang2 yg mampu. nah mungkin dari sinilah pak tua daun singkong ini dikirim oleh Alloh ke kompleksku spy menjadi jalan syurga bagi kami penghuni kompleks yg menyadarinya, semoga amiin …


Nisa pentas drama di sekolah

Juni 20, 2009

hari ini nisa pentas drama di sekolah, lucu sekali tingkahnya. bangga dia bukan main atas keberaniannya. memang si krucil ini agak beda dg mbakyu nya yg agak pemalu, lihat saja ketika si Salma kutanya, “kok mbak Salma gak ikut pentas sich?”, dia cuman jawab “gak”, “kenapa?” kataku, “ya nggak aja”


Nisa pentas drama di sekolah

Juni 20, 2009

test posting microbloging dr cellspin


Juni 18, 2009

coba posting dari cellspin, di posting dari blackberry