Mungkin sdh ke sekian kalinya aku posting di internet, tapi biarlah karena aku pengin lbh byk orang tahu mengenai hal ini. Kata “mottainai” sdh sangat akrab di telinga orang2 jepang terutama generasi tuanya, mereka sering mengucapkan kata ini ketika ingin mengungkapkan rasa penyesalan terhadap suatu kejadian atau aktifitas yg bersifat pemborosan, pe-mubadziran, kesia-siaan, dll hal yg serupa itu. “Mottainai” sejatinya bukan hanya sekedar sebuah kata, tetapi lbh cenderung menjadi sebuah filosofi kehidupan, sebuah akar budaya yg sengaja dipelihara turun temurun, dan alhasil di sadari atau tidak, ini memberikan kontribusi yg tidak kecil terhadap kemajuan negeri sakura ini. Meskipun demikian tidak dipungkiri dg derasnya arus modernisasi, filosafi dan akar budaya ini pun sedikit demi sedikit tergerus dan hampir terlupakan.
Contoh kongkrit budaya bangsa Jepang dlm hal perlawanan thd “mottainai” adalah sbb.
Orang Jepang menganggap kebiasaan ini sungguh jelek apabila kita tidak menghabiskan makanan yg telah kita ambil. Masing-masing butir dari beras adalah produk dari tenaga kerja petani, suatu buah karya yg penuh cinta dan kerja keras. Itulah sebabnya mereka harus dengan penuh terima kasih memakan semangkuk nasi sampai butir yang terakhir. Ini adalah semangat mottainai dari Jepang.
Jika mereka makan ikan dan daging, mereka beranggapan bhw mereka telah melibatkan kehidupan makhluk lain agar tetap bertahan hidup. Maka, kita harus tidak menyia-nyiakan kehidupan makhluk lain, yg telah rela mengorbankan hidupnya demi keberlangsungan hidup manusia. Karena itu sejak zaman lampau, bangsa Jepang sudah memasak dan memakan ikan secara keseluruhan. Kepala, tulang-tulang, kulit dan isi perut adalah semua yang harus dimakan. Akar budaya seperti ini sampai hari ini masih bertahan hanya di desa-desa nelayan kecil.
Dewasa ini, 60 persen dari sampah yang terbuang di Jepang terdiri atas pembungkus. Dahulu mereka menggunakan “furoshiki”, yakni sepotong kain yang berbentuk bujur sangkar, dapat membungkus dengan variasi yang tak terbatas. Kita dapat menggunakan nya sebagai kantong ataupun ransel – itu tergantung kepada imajinasi kita bagaimana kita menggunakan nya. Ini lebih ekologis dan mudah dibentuk dibanding menggunakan kertas atau tas plastik.
Osagari – ini adalah padanan dalam bahasa Jepang dari kata “hands-me-down.” Saat ini konsep tsb hampir punah. Dahulu bermula dari keadaan di mana pakaian milik kakak perempuan itu diturunkan ke adik perempuan. Ini bukan hanya berkenaan dengan hal “penghematan” ; tetapi adalah suatu cerminan kebiasaan dari kita untuk menggunakan kembali (reuse) barang2 yg msh bermanfaat. Tetapi kebiasaan ini kini hampir dilupakan.
Payung-payung saat ini di Jepang jarang diperbaiki karena terbuat dr bahan yang tersedia dengan mudah dan murah. Pada periode Edo, ada pengrajin yang mengkhususkan di dalam memperbaiki barang-barang yang rusak termasuk payung dan barang2 tembikar. Tetapi di dalam masyarakat konsumen kita yang modern, teknik-teknik perbaikan tradisional seperti tengah sekarat dan hilang tidak dihargai. Ini sebenarnya mottainai.
Kimono – pakaian tradisional Jepang – adalah pakaian yang dapat di daur ulang. Begitu sudah tidak dipakai, maka barang tersebut akan diwariskan sampai ke beberapa generasi berikutnya . Kimono menjadi benda yg sangat berharga, karena dapat diturunkan ke beberapa generasi berikutnya. Kemeja Hawai Aloha mempunyai asal muasal dari Kimono. Ketika sebagian orang Jepang bermigrasi ke Hawaii sekitar 80 tahun yang lalu, mereka menjahit kembali Kimono ke dalam sehelai kemeja yg gaya untuk menyesuaikan iklim setempat.
Dahulu di Jepang setiap anak sekolah mempunyai alat pemegang pensil yang sudah pendek, hal ini memungkinkan kita untuk menggunakan pensil sampai benar-benar habis. Hal ini mengajar kita untuk tidak menyia-nyiakan sesuatu.
Di Jepang ada kebiasaan yang hampir hilang yakni menerima dan menuangkan minuman untuk orang lain, yang disebut “oshaku”. Jika ini dilakukan dg atasan kita hal ini akan memunculkan suatu kesadaran dari mottainai, karena penerimaan kita adalah sesuatu yang diberikan secara sukarela.
Toilet-toilet di Jepang dapat membilas dengan cara dua arah. Satu menggunakan lebih sedikit air – untuk pertimbangan tertentu – sehingga air tidak disia-siakan. Kenapa kamar kecil di seluruh dunia tidak mempunyai fungsi rangkap seperti ini?
Kamar tamu di Jepang biasanya mempunyai jendela menghadap ke Selatan yang besar shg ketika kita membaca buku atau surat kabar, atau barangkali menulis surat, kita dpt memanfaatkan jendela itu utk penerangan. Jika ini dilakukan oleh orang seluruh dunia, bayangkan brp ton bahan bakar dpt dihemat?
Tetapi sebagaimana bangsa2 lain diberbagai belahan dunia, bangsa Jepang saat ini juga menghadapi permasalahan akibat semakin hilangnya semangat mottainai itu antara lain :
Bangsa Jepang menggunakan 25 milyar chopsticks yang dibuang dalam satu tahun. Sekitar 96 persennya diimport dari Negeri China. Dengan jumlah yang sama dari kayu potong yang dibutuhkan untuk membuat chopsticks tersebut, maka kita bisa membangun 17,000 unit perumahan dengan ukuran rata-rata.
Di rumah2 makan Jepang sejumlah besar makanan terbuang-buang setiap hari. Kedai 24 jam menyingkirkan kotak-kotak makan siang (bento) dan produk-produk makanan kadaluarsa tiga atau empat kali satu hari. Satu toko rata-rata membuang rata 13 kg dari makanan yang tak terjual setiap hari, dan di sana tdp 40.000 toko di Jepang. Hal ini membuat 520 ton makanan dibuang setiap hari. Bagaimana mungkin kita bisa membenarkan mottainai macam ini ketika setiap hari ada 17.000 orang mati disebabkan kelaparan di seluruh dunia?
Hal2 lain di dalam kehidupan kita yg dapat dianggap mottainai adalah seperti contoh berikut:
Jika anda mampu berbicara tiga bahasa dengan fasih tetapi tidak bisa mendapatkan pekerjaan menggunakan ketrampilan-ketrampilan anda tersebut, maka itu dapat dianggap suatu pemborosan talenta. Mottainai juga diterapkan tidak hanya kepada object tetapi juga kepada kemampuan-kemampuan orang.
Setiap tahun $80 milyar diperlukan untuk mengamankan anak-anak dengan makanan atau minuman bergizi dasar di negara-negara berkembang. Tetapi sebaliknya, jumlah uang yang dihabiskan untuk belanja militer di seluruh dunia adalah 10 kali jumlah itu. Tidakkah ini adalah mottainai?
Dan yg terakhir silahkan anda cari sendiri hal2 mottainai apa saja yg terjadi di negeri kita tercinta ini? -Salam-.